Selasa, 08 November 2011

Fungsi mineral Seng (Zn) dalam tubuh


            Tubuh mengandung 2-2,5 gram seng yang tersebar dihampir semua sel. Sebagian besar seng berada di dalam hati, pankreas, ginjal,otot, dan tulang. Jaringan yang banyak mengandung seng adalah bagian-bagian mata, kelenjar prostat, spermatozoa, kulit, rambut, dan kuku. Seng di dalam plasma hanya 0,1% dari seluruh seng di dalam tubuh.
            Seng mempunyai peranan esensial dalam banyak fungsi tubuh, antara lain sebagai bagian dari enzim atau sebagai kofaktor. Seng berperan dalam aspek metabolisme seperti reaksi-reaksi yang berkaitan dengan sintesis dan degradasi karbohidrat, protein, lipid, dan asam nukleat. Seng berperan dalam pemeliharaan keseimbangan asam basa dengan cara membantu mengeluarkan karbon dioksida dari jaringan serta mengangkut dan mengeluarkan karbon dioksida dari paru-paru pada pernapasan.
            Peranan penting lainnya adalah sebagai bagian integral enzim DNA polimerase dan RNA polimerase yang diperlukan dalam sintesis DNA dan RNA. Seng juga berperan da;lam pengembangan fungsi reproduksi laki-laki dan pembentukan sperma. Seng tampaknya juga berperan dalam metabolisme tulang, transpor oksigen, dan pemunahan radikal bebas, pembentukan struktur dan fungsi membran serta proses penggumpalan darah (Almatsier 2004).
Metabolisme Seng (Zn) di dalam Tubuh   
            Metabolisme dan absorpsi seng menyerupai metabolisme dan absorpsi besi. Absorpsi membutuhkan alat angkut dan terjadi di bagian atas usus halus (duodenum). Seng diangkut oleh albumin dan transferin masuk ke aliran darah dan dibawa ke hati. Kelebihan seng disimpan di hati dalam bentuk metalotionein.Selebihnya di bawa ke pankreas dan jaringan tubuh lain. Seng di dalam penkreas digunakan untuk membuat enzim pencernaan.
            Absorpsi seng diatur oleh metalotionein yang disintesis di dalam sel dinding saluran cerna. Apabila konsumsi seng tinggi, di dalam sel dinding saluran cerna sebagian diubah menjadi metalotionein sebagai simpanan, sehingga absorpsi berkurang. Bentuk simpanan ini kana dibuang bersama sel-sel dinding usus halus yang umurnya adalah 2-5 hari. Metalotionein di dalam hati mengikat seng hingga dibutuhkan oleh tubuh. Distribusi seng antara cairan ekstraseluler, jaringan dan organ dipengaruhi oleh keseimbangan hormon dan situasi stres. Hati memegang peranan penting dalam redistribusi ini (Almatsier 2004).
Faktor- Faktor yang Mempengaruhi Penyerapan Seng (Zn)
            Banyaknya seng yang diabsorpsi berkisar antara 15-40%. Seperti halnya besi, absorpsi seng dipengaruhi oleh status seng tubuh. Apabila lebih banyak seng yang dibutuhkan, lebih banyak pula jumlah seng yang diabsorpsi. Selain itu, jenis makanan juga mempengaruhi absorpsi seng. Serat dan fitat menghambat ketersediaan biologik seng. Sebaliknya, protein histidin membantu absorpsi seng. Albumin dalam plasma merupakan penentu utama absorpsi seng. Albumin merupakan alat transpor seng. Absorpsi seng menurun apabila nilai albumin darah menurun, misalnya dalam keadaan gizi kurang atau kehamilan.
            Sebagian besar seng mengguankan transferin sebagai alat transpor yang juga merupakan alat transpor besi. Pada keadaan normal kejenuhan transferin akan besi biasanya kurang dari 50%. Apabila perbandingan antara besi denagn seng lebih dari 2:1, maka transferin yang tersedia untuk seng berkurang, sehingga menghambat absorpsi seng.
Akibat Kekurangan dan Kelebihan Seng (Zn)
            Defesiensi seng dapat terjadi pada usis rentan, yaitu anak-anak, ibu hamil dan menyusui serta orang tua. Tanda-tanda kekurangan seng adalah gangguan pertumbuhan dan kematangan seksual. Fungsi pencernaan terganggu, karena gangguan fungsi pankreas, gangguan pembentukan kilomikron, dan kerusakan permukaan saluran cerna. Selain itu dapat terjadi diare dan gangguan fungsi kekebalan. Kekurangan seng kronis dapat mengganggu sistem saraf dan fungsi otak. Kekurangan seng juga mengganggu fungsi kelenjar tiroid dan laju metabolisme, gangguan nafsu makan, penurunan katajaman indera serta menghambat penyembuhan luka.
            Akibat kelebihan sen yaitu dapat menyebabkan degenerasi otot jantung. Kelebihan sampai sepuluh kali AKG mempengaruhi metabolisme kolesterol, mengubah nilai lipoprotein, dan dapat memeprcepat timbulnya aterosklerosis. Dosis sebanayak 2 gram atau lebih dapat menyebabkan muntah, diare, demam, kelelahan, anemia, dan gangguan reproduksi. Suplemen seng dapat menyebabkan keracunan, begitupun makanan yang asam dan disimpan di dalam kaleng yang dilapisi seng (Almatsier 2004).
Angka Kecukupan Gizi Seng (Zn)
            Wiyakarya Pangan dan Gizi tahun 1998 menetapkan angka kecukupan seng untuk Indonesia sebagai berikut:
Bayi                             : 3-5 mg
Usia 1-9 tahun             : 8-10 mg
Usia 10->60 tahun      : 15 mg (baik pria maupun wanita)
Ibu hamil                     : +5 mg
Ibu menyusui              : + 10 mg
Metode Analisis Mineral In Vivo
Nilai biologis mineral pangan dan vitamin menggambarkan daya cerna, daya serap, distribusi, dan masuknya vitamin dan mineral pangan ke dalam sel
untuk digunakan sebagai kofaktor enzim, bagian dari hormon atau bagian struktural sel. Evaluasi nilai biologis dilakukan untuk menentukan jumlah vitamin dan mineral yang terkandung dalam bahan pangan yang dapat diserap dan digunakan oleh sel untuk keperluan metabolisme sel. Metode evaluasi dapat dilakukan secara in vivo maupun in vitro. metode in vivo dilakukan dengan menggunakan hewan percobaan atau manusia, sedangkan metode in vitro dilakukan berdasarkan sistem pencernaan misalnya secara enzimatis (Palupi et al.2002).
Analisis ketersediaan mineral secara in vitro didasarkan atas prinsip bahwa mineral yang telah dicerna dalam sistem pencernaan oleh enzim-enzim pencernaan yaitu pepsin secara tunggal atau diikuti dengan tripsin sendiri atau bersama dengan kimotripsin dalam buffer dengan pH yangs sesuai. Kemudian mineral akan diserap melintasi dinding usus yang disimulasikan dengan kantong dialisis berukuran 6000-8000 MWCO (moleculer weight cut of) yang menyerupai usus dengan pori-pori yang sesuai. Mineral yang dapat melintasi dinding usus (kantong dialisis) direaksikan dengan senyawa pewarna, dan intesitas warna yang terbentuk diukur menggunakan spektrofotometer pada panjang gelombang yang sesuai (Palupi et al.2002).
Analisis yang dapat dilakukan sangat bervariasi tergantung dari metode analisis kimia yang tersedia, tetapi secara singkat pertama-tama dilakukan pengabuan lalu pengenceran, dan diukur dengan spektrofotmeter pada panjang gelombang yang sesuai.

sumber : Almatsier S. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Palupi, Zakaria, Prangdimurti. 2002. Evaluasi nilai biologis vitamin dan mineral. http://xa.yimg.com/kq/groups/20875559/1523764269/name/modul13
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar